Life Story 18+ - Menghidupkan orang mati tentu menjadi wacana yang pro-kontra dikalangan masyarakat. Asumsinya sederhana, jika dilihat dari sudut pandang agama, hal ini tentunya melawan ketentuan Tuhan. Dan jika dilihat dari sudut pandang manusia, menghidupkan orang mati dalam kasus ini artinya bertujuan untuk mengembangkan teknologi dimasa depan.
Pertanyaannya, mungkinkah hal ini terjadi?
Sebuah startup Australia baru-baru ini mempunyai gagasan tentang menghidupkan kembali orang yang sudah meninggal. Dalam klaimnya, ia mengatakan dapat menghidupkan kembali orang yang telah meninggal. Dengan catatan, otaknya masih bisa berfungsi.
Humai, begitulah nama yang diberikan untuk nama perusahaan tersebut. Humai sendiri merupakan akronim dari Human Resurrection Through Artificial Intelligence, alias membangkitkan manusia lewat kecerdasan buatan. Proyek ini diklaim akan berjalan 30 tahun mendatang. Sebab butuh pengumpulan data yang cukup untuk mengolah informasi yang ada.
Menghidupkan orang mati dengan metode kecerdasan buatan
Cara menghidupkan orang mati yang digagas oleh startup Humai, yakni dengan memanfaatkan otak orang yang sudah meninggal. Otak itu, nantinya akan dipindahkan ke tubuh buatan.
“Kami ingin membawa sebuah pengalaman baru kepada orang-orang, yakni pengalaman hidup setelah meninggal,” ujar CEO Humai, Josh Bocanegra. “Kami menggunakan kecerdasan buatan dan juga teknologi nano untuk menyimpan data percakapan, pola perilaku, proses berpikir dan informasi tentang bagaimana (fungsi) tubuh Anda bekerja ketika didalam dan juga diluar. Nantinya, data ini akan dikodekan menjadi beberapa teknologi sensor, yang akan dipasang kedalam badan buatan dengan otak manusia yang sudah meninggal.
Josh memang tak menampik, bahwa kunci keberhasilan dari eksperimennya ini adalah otak. Sebabnya, jika otak tersebut telah mati (sudah tidak berfungsi), maka teknologi ini akan sia-sia. Oleh sebab itu, pembekuan otak menjadi perhatian yang sangat serius untuk keberhasilan teknologi ini.
Ambisi yang kuat
Sebuah startup Australia baru-baru ini mempunyai gagasan tentang menghidupkan kembali orang yang sudah meninggal. Dalam klaimnya, ia mengatakan dapat menghidupkan kembali orang yang telah meninggal. Dengan catatan, otaknya masih bisa berfungsi.
Humai, begitulah nama yang diberikan untuk nama perusahaan tersebut. Humai sendiri merupakan akronim dari Human Resurrection Through Artificial Intelligence, alias membangkitkan manusia lewat kecerdasan buatan. Proyek ini diklaim akan berjalan 30 tahun mendatang. Sebab butuh pengumpulan data yang cukup untuk mengolah informasi yang ada.
Menghidupkan orang mati dengan metode kecerdasan buatan
Cara menghidupkan orang mati yang digagas oleh startup Humai, yakni dengan memanfaatkan otak orang yang sudah meninggal. Otak itu, nantinya akan dipindahkan ke tubuh buatan.
“Kami ingin membawa sebuah pengalaman baru kepada orang-orang, yakni pengalaman hidup setelah meninggal,” ujar CEO Humai, Josh Bocanegra. “Kami menggunakan kecerdasan buatan dan juga teknologi nano untuk menyimpan data percakapan, pola perilaku, proses berpikir dan informasi tentang bagaimana (fungsi) tubuh Anda bekerja ketika didalam dan juga diluar. Nantinya, data ini akan dikodekan menjadi beberapa teknologi sensor, yang akan dipasang kedalam badan buatan dengan otak manusia yang sudah meninggal.
Josh memang tak menampik, bahwa kunci keberhasilan dari eksperimennya ini adalah otak. Sebabnya, jika otak tersebut telah mati (sudah tidak berfungsi), maka teknologi ini akan sia-sia. Oleh sebab itu, pembekuan otak menjadi perhatian yang sangat serius untuk keberhasilan teknologi ini.
Ambisi yang kuat
humai ceo quoteYang menjadi masalah bagaimana caranya mencegah kerusakan otak tersebut. Sebab proses pembekuan otak hanya bagian awalnya saja. Ya, meski terdengar seperti gagasan yang aneh, akan tetapi Josh meyakini ambisinya dapat terwujud. Selain itu, Josh juga percaya bahwa perusahaannya nanti akan menyelamatkan banyak nyawa manusia.
Saat ini, Josh hanya mempunyai 4 staf, namun, untuk kedepannya bukan tak mungkin akan merekrut orang baru. Tentu saja, ia ingin merekrut orang yang mempunyai visi dan misi yang sama.
Yang mengejutkan, Josh sendiri tidak mempunyai latar belakang sebagai ilmuwan. Justru, ia sendiri mengklaim dirinya sebagai seorang wirausahawan yang bergerak dibidang teknologi. Termasuk seorang internet marketing.
Saat ini, Josh hanya mempunyai 4 staf, namun, untuk kedepannya bukan tak mungkin akan merekrut orang baru. Tentu saja, ia ingin merekrut orang yang mempunyai visi dan misi yang sama.
Yang mengejutkan, Josh sendiri tidak mempunyai latar belakang sebagai ilmuwan. Justru, ia sendiri mengklaim dirinya sebagai seorang wirausahawan yang bergerak dibidang teknologi. Termasuk seorang internet marketing.
Klaim lainnya
Dilain waktu, sebuah pertemuan yang diadakan di New York Academy of Science, menghadirkan Dr Sam Parnia dari State University of New York di Stony Brook, Stephan Meyer dari Columbia University, dan Lance Becker dari University of Pennsylvania. Mereka pun juga berteori, bahwasanya manusia yang sudah mati dapat dihidupkan kembali.
Dalam pertemuan itu dibahas bahwa kunci penyadaran kembali pada orang yang baru saja meninggal adalah hipotermia.
Baca juga: Fakta unik tentang kematian, Tahukah Anda? Bahwa kepala manusia masih dalam keadaan sadar selama 15 hingga 20 detik setelah dipenggal?
Gagasan ini, didasarkan pada pandangan baru tentang kematian. Sebelumnya, kematian didefinisikan sebagai saat di mana jantung sudah berhenti berdetak dan paru-paru berhenti bekerja sehingga individu tidak bernapas.
Dalam pandangan baru, kematian tidak dianggap sebagai peristiwa yang terjadi secara serentak di semua bagian tubuh, tetapi sebagai proses bertahap. Saat detak jantung dan napas individu terhenti, sel individu sebenarnya masih hidup. Kematian total, kiranya bisa dikatakan demikian, baru terjadi ketika sel-sel otak kekurangan oksigen, akibat terhentinya jantung dan napas.
Dalam gagasan ilmuwan, ada jeda antara henti jantung dan napas dengan kematian total. Jeda itu yang kemudian dimanfaatkan untuk melakukan tindakan sehingga orang yang sebelumnya dinyatakan telah mati bisa sadar kembali. Namun, proses tersebut harus dilakukan secara hati-hati. Salah satu perhatiannya, upaya menyadarkan orang yang telah meninggal harus tidak mengakibatkan kerusakan otak akibat jantung yang berhenti menyuplai oksigen.
Baca juga: Otak semut setara komputer Macintosh II !
Metode sulit, bukan berarti mustahil untuk dilakukan
Berdasarkan studi, hipotermia bisa mencegah kerusakan sel otak dengan menurunkan permintaan oksigennya. Namun, ini tetap ada batasannya. Ada momen ketika kerusakan memang sudah terlalu besar sehingga tak bisa dikembalikan.
Kemudian, setelah prosedur hipotermia dan jantung bekerja, kunci lainnya adalah menjaga suplai oksigen. Suplai oksigen yang tiba-tiba besar justru akan berdampak negatif karena akan merusak jaringan otak.
Hipotermia terbukti membantu prosedur resusitasi. Namun, bahkan di Amerika Serikat sendiri, tak semua rumah sakit menerapkan prosedur hipotermia. Hal ini pun menjadi keterbatasan resusitasi.
Soal oksigen, suplai harus diatur dengan mesin agar jumlah oksigen yang dialirkan sesuai yang dibutuhkan, kata Parnia.
Yang menjadi permasalahan juga, penyadaran kembali orang yang telah meninggal ini menimbulkan pertanyaan etis. Pasalnya, upaya menyadarkan kembali orang yang telah berjam-jam mengalami henti jantung, berisiko pada kerusakan otak. Lantas, siapa yang kemudian bertanggung jawab melakukan proses resusitasi lebih komprehensif? Dimana pointnya?
Mayer pun mengungkapkan, keterbatasan saat ini adalah pengetahuan tentang kerusakan otak. Ilmuwan belum mengetahui seberapa lama kerusakan bertahan dan apakah bisa dikembalikan ke kondisi semula. Lebih lanjut, Mayer menambahkan, saat ini masih perlu kajian yang lebih lanjut tentang bagaimana kerusakan otak bisa dicegah.
Sementara itu, Becker menuturkan, upaya penyadaran tidak selalu bisa dilakukan di setiap kasus. Namun, sekali dokter memutuskan, dokter harus menerapkan semua metode yang mungkin bisa dilakukan. (berbagai sumber)


0 komentar:
Posting Komentar